Apa Kata Sesepuh Kerohanian Sapta Darma Terkait Kasus Penistaan Simbul Pribadi Manusia Sapta Darma

WARTA BALI.CO.ID - DENPASAR - Kerohanian Sapta Darma merupakan salah satu Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berkembang pesat pengikutnya di Indonesia sejak tahun 1952 yang diterima pertama kali oleh Bapak Hardjosapoero (Panuntun Agung Sri Gutomo) yang berkebangsaan Indonesia berasal dari Pare,Kediri,Jawa Timur.Kerohanian Sapta Darma mempunyai tujuan luhur yaitu hendak menghayu-hayu bahagianya buana.Antara lain membimbing manusia untuk mencapai suatu kebahagian hidup di dunia dan alam langgeng.

Organisasi Persatuan Warga Sapta Darma ( PERSADA) merupakan Organisasi sebagai wadah para Warga Sapta Darma yang berdiri sesuai UU.No.8 Tahun 1985 yo PP.N0.18 Tahun 1986 yo Peraturan Mendagri No.5 Tahun 1986 yang di bina oleh Ibu Sri Pawenang pada awal pendiriannya sebagai salah satu Juru Bicara Sapta Darma.Akibat adanya kasus Panghusadan Palsu di Provinsi Bali yang terjadi pada tanggal (04/11/2018) serta tampak duduk dikain simpul pribadi manusia di Sanggar Candi Busana Tegeh Kuri,Jl.Kemuda No 6 Denpasar Bali.

Journalist Indonesia Satu mengadakan Investigasi dan penelusuran mengapa hal tersebut terjadi. Menurut keterangan dari salah satu Pendiri Organisasi Sapta Darma (OSD) HB pria asal Jogjakarta . Organisasi Sapta Darma (OSD) berdiri karena adanya pemecatan Tuntunan Kerohanian Sapta Darma Kota Denpasar dan beberapa pengurus Persada Kota Denpasar, tidak ada klarifikasi dan langsung melayangkan surat pemecatan yang ditanda tangani oleh Tuntunan Agung Kerohanian Sapta Darma Via Ketua Persada Pusat. Organisasi Sapta Darma Ketua Umumnya adalah I Nyoman Swastika juga sebagai pemilik Sanggar Candi Busana Tegeh Kuri.

Tentu hal tersebut terkait ulah Oknum mantan Pengurus Organisasi Sapta Darma "Haryo" yang mengiklankan Minyak Pelet dan pengobatan serta benda bertuah yang memasang Iklan Simbul Pribadi Manusia,serta fhoto Panuntun Agung Sri Gutomo dan Tuntunan Agung Sri Pawenang. Terkait adanya hal tersebut tentunya Kerohanian Sapta Darma Pusat juga harus mengambil langkah supaya tidak terjadi salah tafsir para Warga Kerohanian Sapta Darma di seluruh Indonesia. Karena ini adalah tanggung jawab para pengurus Organisasi baik PERSADA dan OSD.

Terkait Kasus tersebut pada saat Rakernas 3 Lembaga di SCSR Jogjakarta tanggal 19-20 Desember 2017 di bahas terkesan Ketua Umum Persada menghimbau kepada para warga untuk mengantisipasi provokator dari luar. Bukankah hal tersebut memang fakta sesuai kejadian dan ada pelaku serta saksi-saksinya.Bukankan segala sesuatu di PERSADA diatur oleh AD/ART.Bahkan ada salah satu pengurus Ketua Persada Kab.Lumajang juga menjadi pengurus sebagai Tuntunan di Organisasi  Sapta Darma.Mengapa tidak ada tindakan?.

"Memang sejak awal ada yang kurang bijaksana dalam menanggapi metode mengajar,jika ada perbedaan metode penelitian sujud dianggap menyimpang dan tanpa di telusuri Persada Pusat sudah menghakimi." tegas KS salah seorang Tuntunan Wilayah Kota Malang ketika di konfirmasi di kediamannya (30/03/2018).

Akibatnya beberapa pengikut mantan Tokoh Kerohanian Sapta Darma dan Persada Kota Denpasar mendirikan Organisasi Sapta Darma. Karena semua hal tersebut menyangkut kepentingan pribadi maka Persada Pusat dengan adanya Kasus tersebut tidak bisa meluruskan atau mengambil langkah kongkret mantan Pengurus OSD yang memanfaatkan Ajaran Sapta Darma untuk kepentingan pribadi.(Lilik)

Berita Terbaru

Index Berita