Diduga Selewengkan Dana Zakat, Ketua Baznas Dihearing Dewan

syafrianto, 09 Jan 2020, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

PASAMAN - Ngeri.... Ketua Baznas Pasaman Buya Syafrizal mengaku, bahwa temuan Inspektorat atas aliran dana zakat yang tidak tepat sasaran di Baznas Pasaman, salah satunya adalah pinjaman pribadi Yusuf Lubis, Bupati Pasaman sejumlah Rp. 50 juta.

Hal itu terungkap dalam hearing DPRD Pasaman dengan Baznas Pasaman, Senin (6/1) di ruang rapat utama DPRD Pasaman. 

Anggota DPRD Pasaman, Salamat Simamora (fraksi Nasdem), malah terlihat begitu kaget mendengar pengakuan Syafrizal, yang menyebut nama Yusuf Lubis Ikut meminjam uang zakat. 

"Yang pinjam uang itu, Bupati Pasaman atau Yusuf Lubis selaku pribadi ?" tanya Salamat spontan. 

"Waktu itu bulan puasa, dan pinjaman itu atas nama pribadi Yusuf Lubis," jawab Syafrizal santai.

Topik ini akhirnya menjadi perdebatan sengit anggota DPRD Pasaman dengan Ketua Baznas dalam hearing yang berlangsung hingga maghrib.

Malah, Ketua Fraksi PAN DPRD Pasaman, Yulisman, AMd, dengan tegas meminta agar kasus ini dibuka secara terang benderang, biar jelas.

"Apa sebenarnya yang terjadi dengan dana zakat ini. Kan kasihan kita sama masyarakat yang telah berzakat, termasuk delapan maznaf zakat yang seharus menerima dana umat tersebut. Jadi,d dibuka saja sejelas-jelasnya di forum ini," tegas Yulisman. 

Zakat produktif membantu usaha PT Equator dan kebun cabe, penggemukan sapi potong, Kipang Pulut, (10 usaha swasta dimodali). dibenarkan oleh agama dan dibolehkan oleh negara.

Auditor lnspekrorat Pasaman, Menata Jaya, SH, di hadapan anggota dewan mengungkapkan bahwa Ketua Baznas Syafrizal telah menolak untuk diperiksa oleh tim inspektorat. Karena menurut ketua baznas, yang berhak mengauditnya adalah lembaga akuntan publik. 

Namun menurut Menata Jaya, sesuai Peraturan Pemerintah No. 14 ahun 2014 pasal 45 (c), bahwa Bupati punya kapasitas memberi wewenang kepada inspektorat untuk melakukan pemeriksaan.  

Hal itu langsung mendapat tanggapan dari Salamat Simamora. Menurut legislator muda Partai Nasdem ini, Inspektorat itu berhak memeriksa, bahkan dewan pun berhak untuk mendiskusikan hasil temuan inspektorat tersebut, karena kapasitas DPRD, juga sebagai pengawas. 

Begitupun Yulisman, ketua fraksi PAN DPRD Pasaman. Menurutnya, DPRD perlu tahu, kenapa sampai dana zakat ASN sebagai penyuplai terbesar ke kas Baznas selama ini, sekarang (Januari 2020) telah disetop. 

"Apakah penggunaan dana Baznas sudah sangat melenceng, apakah temuannya sampai ratusan juta atau milyaran rupiah," tanya Yulisman.

Terkait hal ini, salah seorang warga Lubuk Sikaping, Ruli, mengaku sangat kecewa dengan Baznas Pasaman, sejak dipimpin Buya Syafrizal.

Pengakuan Rul, sudah empat kali Dia mengurus bantuan untuk masyarakat miskin yang sakit, dan untuk biaya sekolah anak, tapi tidak pernah direalisasikan ketua Baznas.

Padahal dulu, sebelum Syafrizal bercokol di Baznas, hampir merata masyarakat miskin menerima zakat dari baznas Pasaman

"Alasannya dana Baznas sudah habis. Kalau mau juga, silakan ajukan permohonan ke Baznas propinsi. Tapi kalau perusahaan swasta, bisa saja Baznas meminjamkan uang hingga ratusan juta," gerutu Ruli, kesal. 

Penyalahgunaan dana Zakat umat ini pun, serta merta menjadi topik teramat hangat dibincangkan masyarakat Pasaman. 

Apalagi sejak surat hasil akhir pemeriksaan tim audit internal Baznas Pasaman tahun 2019, beredar luas secara online dikalangan masyarakat. 

Surat itu diyakini asli, karena selain lengkap tanda tangan tim audit, juga di sudut kanan bawah sampul, tertera pula disposisi untuk inspektorat dengan tulisan pena khas pejabat.

“Memang benar, yang tersebar itu hasil audit tim audit di bawah jajaran Baznas Pasaman,” kata Ketua Baznas menanggapi wartawan, Rabu (8/1).

Seperti dikutip dari pemberitaan salah satu pemberitaan media masa, bahwa dalam selebaran yang tersebar itu, tim audit menelanjangi keuangan dan kejanggalan dana umat yang diduga banyak diselewengkan Syafrizal, yang realisasinya tidak sesuai peruntukan dan putusan bersama pengurus.

Misal, pendistribusian ke kecamatan sesuka hati ketua Syafrizal. Ada pula sebagian dana yang tidak bisa dipertanggungjawabkan sekitar Rp715 juta.

Lebih mirisnya, dalam laporan itu tertera, ada dana zakat umat yang dipinjamkan kepada pihak lain. Seperti kepada pengusaha swasta, Kipang Pulut Bonjol, usaha penggemukan sapi, kebun cabe, pada PT. Equator, hingga ada pula kepada pribadi, yakni kepada Syafrizal sendiri yang jumlahnya sampai ratusan juta rupiah.

“Iya, pinjaman itu saya akui. Namun, ada yang perlu diluruskan,” dalih Syafrizal.

Dalam kesimpulan pemeriksaan, dana yang dipinjam-pinjamkan oleh Syafriizal ini dinilai telah menyalahi aturan. Dimana rincian dana yang menjadi permasalahan temuan ini yakni, adanya dana tidak bisa dipertanggungjawabkan Rp715 juta, pinjaman pada Kipang Pulut Bonjol, Rp223 juta, PT. Equator Rp25 juta, dan adanya pinjaman pribadi dari pejabat Pasaman Rp50 juta dan Rp10 juta. 

Paling parah pinjaman pribadi ketua Baznas Syafrizal Pasaman mencapai Rp392 juta dengan nota catatan dua kali pinjam. 

Dalam hasil pemeriksaan ini, Syafrizal beralasan untuk pembangunan Pondok Tahfiz Islamic Center yang di Rao. Namun ternyata ini pinjaman bodong, karena pihak pondok tahfiz melalui bendahara tidak ada menerima dana sampai ratusan juta rupiah dari Baznas. Ini tertera dalam laporan. Tak luput ada pula utang pribadi Syafrizal Rp41,7 juta.

Di sisi lain, Syafrizal begitu menyayangkan dokumen rahasia ini sampai tersebarluas ke publik. 

"Entah apa permasalahannya. Sampai saat ini, mereka (tim audit) tidak pernah tatap muka untuk menyelesaikan permasalahan ini sama saya,” kata Syafrizal.

Perihal adanya pinjaman-pinjaman itu, Syafrizal berdalih bahwa itu merupakan bentuk realisasi zakat produktif. Karena Zakat ini ada dua macam, yakni zakat umat yang memang direalisasikan langsung dan zakat produktif.

"Ini sah-sah saja, selagi ada simbiosis multualisme. Zakat tersalurkan, dan pengusaha berhasil serta menghasilkan zakat dan infaq," alasan Buya Syafrizal, yang kerap menyebut nama tuhan dan ayat-ayat alquran serta hadist, guna mem'backup sikap dan perbuatannya. 

"Saya dituding mengambil kebijakan sendiri, itu tidak benar. Mereka-mereka itu (pengurus lainnya dalam tim audit) yang jarang datang ke kantor,” tampik Syafrizal.

Disinggung soal pertanggungjawaban, bila peminjam dana zakat ini kabur atau semacamnya, Syafrizal berdalih pinjam meminjam ini telah diikat dengan perjanjian bermatrai. 

“Ada juga tu yang entah dimana dia sekarang, tapi kan ada keluarganya dan tetap saya Ketua Baznas yang bakal mencari dan bertanggungjawab. Jangan cemas, sampai masa jabatan berakhir, saya akan beratnggungjawab atas semua ini,” tegas Syafrizal.

Terkait pinjaman pribadinya, Syafrizal mengakui kalau itu pinjaman orang lain atas nama dirinya. “Sekali lagi, saya bertanggungjawab,” tukasnya. 

Editor: Anto

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu