Dubes Tantowi Perkenalkan Biji Cokelat Indonesia di Selandia Baru

INDONESIASATU.CO.ID: WELLINGTON - Dubes Tantowi Yahya telah berkunjung ke Kantor dan pabrik pembuatan cokelat Whittaker's pada Senin (25/7/2017) dan bertemu Chief Operating Officer, James Arden. Pertemuan yang berlangsung selama 1 jam tersebut, Tantowi Yahya berharap terbukanya peluang coklat Indonesia bias masuk di pasaran Selandia Baru dan bias menjadi salah satu bahan baku utama pembuatan coelat Whittaker's.

Dalam pembiacaraan tersebut, Dubes Tantowi menjelaskan tentang keadaan terkini budi daya cokelat dan industri pengolahan cokelat di Tanah Air. Indonesia adalah penghasil cokelat terbesar ketiga di dunia yang memproduksi 331 ribu ton di tahun 2016 dan memasok 10% dari kebutuhan coklat dunia.

Selandia Baru saat ini baru mengimpor 411 kg biji cokelat dari Indonesia. Memperhatikan fakta tersebut, Dubes Tantowi berkeyakinan bahwa pasar untuk biji cokelat Indonesia masih terbuka lebar dan optimis cokelat Indonesia bisa mendunia melalui Selandia Baru. Pada kesempatan tersebut, Dubes Tantowi juga menyerahkan sample biji cokelat Indonesia kepada Mark Humphris, yang berkeinginan untuk mengolah biji tersebut dan membuat cokelat batangan khas Whittaker's.

Berdiri sejak 1896, Whittaker's telah menjadi ikon dunia untuk cokelat Selandia Baru. Whittaker's merupakan pabrik cokelat ternama yang memproses dari biji cokelat menjadi cokelat batangan. Sebesar 85% produksi cokelat Whittaker's dipasarkan di Australia dan Selandia Baru dan sebesar 15% di pasar internasional. Sejak tahun 2016, cokelat Whittaker's telah dipasarkan di Indonesia sebagai cokelat premium.

Saat diajak tur keliling pabrik pengolahan biji cokelat Whittaker's disertai penjelasan dari Humphris tentang proses produksi dengan terperinci. Dubes Tantowi melihat langsung bahan mentah yang digunakan oleh pabrik Whittaker's, semakin yakin bahwa Indonesia mampu memasok bahan-bahan tersebut.

"Kualitas biji cokelat Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Pasokan biji cokelat Indonesia yang melimpah, memperluas peluang Indonesia untuk menyuplai perusahaan cokelat di Selandia Baru", "Namun masih ada beberapa tantangan yang harus diatasi untuk menjadikan cokelat Indonesia pilihan utama produsen cokelat seperti Whittaker's ini", ujar Tantowi.

Menurutnya, dua hal utama yang harus menjadi perhatian Indonesia adalah kredibilitas dan konsistensi guna menumbuhkan dan menjaga kepercayaan (trust) antara semua stakeholders seperti pemerintah, pengusaha, dan petani terhadap pentingnya menjaga keberlangsungan dan kualitas pasokan. "Banyak kasus tentang kedua hal tersebut dianggap tidak penting sehingga eksportir mengalihkan pasar ke negara lain," lanjut Tantowi.

​Pertemuan dan kunjungan ke pabrik Whittaker's ini sebagai upaya KBRI Wellington guna mendukung komitmen Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan total nilai two-way trade antara Indonesia dan Selandia Baru yang ditargetkan mencapai sebesar USD 4 milyar atau senilai Rp. 40 trilyun di tahun 2024. Saat ini, nilai perdagangan Indonesia-Selandia Baru baru berkisar USD 1,4 miliar dan diharapkan akan meningkat seiring dengan upaya-upaya penjajakan dan promosi yang dilakukan KBRI Wellington. (Sumber: KBRI Wellington/kemlu.go.id)