Hadi Pranoto: Speed Limiter Integrated Fatigue Analyzer (SLIFA) Alat Jitu Kurangi Angka Kecelakaan

thePROFESSOR.ID: JAKARTA – Dosen Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana, Jakarta yang juga kandidat doktor salah satu perguruan tinggi negeri ternama Malaysia, Universitas Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), Hadi Pranoto, MT., berhasil menemukan sebuah alat yang dapat mengurangi angka kecelakaan berkendaraan di jalan raya.

Inovasi baru itu diberi nama Speed Limiter Itegrated Fatigue Analyzer (SLIFA). Alat ini dapat mengontrol kecepatan kendaraan yang di fokuskan pada safety engineering improvement. Hebatnya, alat pengontrol kecepatan ini terintegrasi dengan alat pendeteksi kelelahan sopir.

SLIFA sangat cocok dipasang pada kendaraan penumpang dan barang seperti bus dan truk. Meskipun demikian alat ini pun dapat digunakan di kendaraan-kendaraan pribadi semisal mobil sedan atau MPV (Multi Purpose Vehicle) alias kendaraan serba guna.

“Sebab prinsip kerja SLIFA ini untuk mendeteksi tingkat fatigue atau kelelahan sopir yang kemudian direspon oleh mesin untuk secara otomatis mengurangi kecepatan laju kendaraan hingga menjadi 30 kilometer per jam,” kata Hadi Pranoto.

Sebagai orang yang sedang menekuni bidang safety engineering kendaraan, khususnya bus dan truk, Hadi merasa terpanggil dengan masih banyaknya kecelakaan di jalan raya yang rata-rata penyebabnya adalah faktor manusia (human factor) yang berkaitan erat dengan attitude pengemudi.

“Kebanyakan pengemudi di Indonesia melanggar larangan basic safety seperti batas kecepatan, ugal-ugalan di jalan, tidak memperhatikan jam kerja atau memaksakan diri untuk mejalankan kendaraanya, meskipun sudah lelah dan ngantuk,” katanya.

Beberapa penelitian menyebutkan, kelebihan kecepatan dan tidak fokus atau fatigue driver sebagai faktor penyumbang terbesar terjadinya kecelakaan. Pada kurun waktu 2015 sekitar 556 orang telah meninggal di jalan raya dari total kasus yang terjadi sebanyak 6.231, dan secara keseluruhan total kecelakaan di dunia 1,3 juta orang meninggal dunia sia-sia setiap tahun nya.

Menurutnya, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan sebetulnya telah mengeluarkan aturan yang membatasi kecepatan berkendara di jalan raya yaitu melalui Keputusan Menteri Perhubungan KM No. 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan. Tetapi peraturan tersebut sepertinya belum mampu memaksa para pengendara mobil untuk patuh dan bersedia membatasi kecepatan laju kendaraannya, sehingga tingkat kecelakaan pun tetapi tinggi.

“Sehingga dengan engineering improvement ini akan menjadi alat yang dapat mendukung program pemerintah dalam kampanye menurunkan angka kecelakaan di Indonesia,” tuturnya.

Telah Diuji Coba

Pembatas kecepatan yang terintegrasi dengan analisa kelelahan supir ini telah di uji coba di beberapa kendaraan komersial seperti HINO, MITSHUBISHI, FUSO, MERCEDES BENZ, ISUZU, dan KOMATSU HD. Termasuk juga telah dipasang pada sedikitnya 200 truk pengangkut BBM milik PT Pertamina.

Dalam uji coba yang dilakukan tersebut telah berhasil membatasi kecepatan dan telah bisa memberikan report analisa kelelahan supir yang signifikan.

Selain itu, SLIFA juga telah menjalani serangkaian tes konsumsi BBM, emisi, performansi mesin, dan kecepatan kendaraan. Dari hasil berabagai tes tersebut, diketahui kendaraan yang menggunakan SLIFA dapat menghemat BBM hingga 30%. Emisi bahan bakar pun dapat menurun hingga lebih dari 70%. Sedangkan Power Maximum (P-Max) dapat naik secara signifikan hingga mencapai 75%.

“Sedangkan dari hasil tes kecepatan, SLIFA dapat menurunkan kebiasaan sopir memacu kendaraannya over speed alias ngebut. Berubahnya 100%, jadi hanya maksimal rata-rata memacu kecepatannya 70 kilometer per jam,” kata Hadi.

Penggunaan SLIFA juga mampu mengurangi tingkat kecelakaan akibat ngebut dan supir mengantuk. Kemudian meningkatkan usia pakai kendaraan (kendaraan dan komponennya lebih awet), dan meningkatkan citra perusahaan akan keselamatan kerja. (aliy)

Sumber: BERITATRANS.COM