Muhamman Ja'far Hasibuan, Pemuda Kreatif "Marsipature Hutanabe" Membangun Indonesia dari Tanah Kelahiran

indonesiasatu, 08 Jul 2019,
Share w.App T.Me

Adalah Muhammad Ja’far Hasibuan, biasanya orang-orang memanggilnya dengan sebutan Ja’far. Semasa di bangku MTs dan MAS, ia merintis usaha KUD Kejora bersama pamannya Alm Hasanuddin Hasibuan di Tapanuli Selatan, kisahnya tersebut berawal dari jualan minyak bensin, solar dan minyak tanah sebuah gubuk  pondok kecik didik uwanya dari Kls 1 MTs sambil bersekolah tiap hari di perjuangan Ja'far sunggunglah sedih dia berjuang bantu uwanya demi cari uang sekolahnya bersekolah di Pondok Pesantren Nurul Falah Tamosu Panompuan.

Di masa SMP dan SMA hidupnya hanya belajar dan berdagang serta menghendel sebuah perusahaan uwanya, kala itu ja'far masih kecil tapi sudah memegang uang jutaan rupiah dipercaya oleh uwanya di setiap penjualan dan urusan setor menyetor Ke Bank.

Sehabis sholat shubuh Ja'far sudah memulai aktivitasnya dengan  menyetor penjualan ke Bank Sumut denganjarak tempuh sekitar 27 KM ke Kota Padang Sidimpuan dari tempat usahanya.

Kala itu masih di bangku SMP dan semua aktivitas penjualan ditangani sendiri. Uwanya ingin agar anaknya ini mandiri dan kelak  usahanya bisa meningkat menjadi usaha besar.

Seusai tamat MAS (setingkat SMA), ia diberangkatkan ke Medan oleh uwa kandungnya Almarhum Hasanuddin Hasibuan dan dengan hanya berbekal uang ongkos bus SAMPAGUL Rp.80.000.

Sesampainya ke Kota Medan, ia pun kehabisan uang dan tak tahu kemana arah dan tujuannya, sementara cita - citanya ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi harus bisa digapainya, ia pun lantas tak berputus asa, setelah tiba di Kota Medan, ia pun berkerja di salah satu grosir bahan material bangunan tepatnya di Deli Tua,  Toko Samura Jaya.

Setahun pun berlalu, kemudian, ia mendaftarkan diri masuk kuliah ke perguruan tinggi. Ia pun berpikir untuk mendapatkan uang kuliah yang harus dibayarkan. Ia pun kembali berjuang untuk kuliahnya dengan menjumpai sebuah perusahaan roti. Ia pun berkerja sebagai pedagang roti, tanpa gengsi dan tanpa malu, ia mengayuh gerobak sepeda angin itu untuk membiayai hidup dan kuliahnya. 

Pekerjaan sebagai pedagang roti terus ia lakoni sejak awal kuliah sampai wisuda, kegiatan itu terpaksa ia lakukan demi untuk membiayai hidup dan kuliahnya. Tidak sampai di situ, sepulang dari kuliah, di sore hari pun ia melanjutkan perjuangan hidupnya lagi dengan berjualan di terminal Amplas tepatnya di Jalan Sisingamaraja Medan.

Menjajakan barang dagangan rotinya dari loket ke loket. Hampir semua loket bus yang ada di Amplas didatanginya. Berdagang roti itu pun dilanjutkan hingga sampai larut malam, kemudian berlanjut berjualan lagi sampai ke Pasar Simpang Limun, bahkan sampai fajar pagi, Jafar masih menjajakan dagangan rotinya itu. 

Semasa kuliah itu, ia jarang tidur di malam hari, bahkan ia sampai tertidur di atas grobak roti untuk menghabiskan jualannya. Tiap harinya selama 4 tahun kuliah dan sambil mengerjakan tugas kuliah di atas grobak roti. Ia juga pernah merasakan saat grobak rotinya ditabrak sepeda motor di waktu malam, grobak roti itu hancur, mulai dari steling kaca semua hancur. Beruntung Ja'far selamat. 

Muhammad Ja'far Hasibuan adalah anak ke 2 dari 10 bersaudara, ia terus mengenang getirnya pahit kehidupan ini, seringkali ia tidur di atas grobak rotinya, mengalami perihnya hidup sebagai pedagang. 

Ia menceritakan, jika pernah suatu hari dagangannya hilang dan terkadang hasil jualanpun pun pernah di curi preman saat ia letih dan tertidur diatas grobak sepeda anginnya itu.

Ilmuwan Muhammad Ja’far Hasibuan adalah salah satu Alumnis yang berprestasi di Perguruan Tinggi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Pria bertubuh gempal ini lahir pada tahun 1991 di Desa Sampuran Simarloting, Kecamatan Halu Sihapas Padang Lawas Utara. Kampung halamannya tersebut merupakan desa tertinggal yang sulit dijangkau, karena akses transportasi jalan yang rusak. Walau perjalanan menuju kampus membutuhkan waktu hampir 12 jam dan ditambah pula perekonomian keluarga yang serba terbatas, ia tetap bersemangat menuntut ilmu hingga ke Kota Medan, demi masa depan yang lebih baik. Berbagai kompetisi dan lomba pun diikutinya, hingga akhirnya berhasil meraih kemenangan.
 
Karier dan Prestasi
Ia terpilih sebagai salah satu peserta Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (PSP3) Angkatan XXV, yang diadakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Saat itu, ia ditempatkan di Desa Silo Baru Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan yang infrastrukturnya masih kerap tergenang air.

“Awal saya ke sana, itu memang desa tertinggal. Jalannya saja berupa genangan air, tapi itu tidak menyurutkan niat saya. Kemudian, saat berjalan di pinggir pantai, saya melihat ada potensi melimpah ruah, yakni udang halus kecil segar salah satu sumber potensi di dunia tepatnya di laut Asahan atau udang belacan (terasi)," kata Muhammad Ja'far Hasibuan.

Berbekal potensi yang ada, Ja’far lantas merintis sebuah usaha berbasis koperasi, yaitu memproduksi terasi udang. Usaha yang dirintisnya mulai dari nol ini pun tidak langsung berhasil. Berbagai kendala silih berganti dihadapinya, mulai dari kendala distribusi hingga pemasukan yang berdampak pada modal. Walau digempur berbagai hambatan, Ja’far berhasil memproduksi terasi berkualitas baik, tidak berbau amis, dan juga alami dari udang asli, tanpa pewarna atau pun pengawet.
 
Cerita Usaha Jafar
Pada awal terbentuknya usahanya itu, Ja’far memiliki anggota sebanyak 30 orang, terdiri dari warga sekitar yang diajak untuk ikut membantu produksi. Saat ini, mereka sudah dapat memproduksi terasi udang sebanyak 20 ton per bulan. Selanjutnya, yang dibutuhkan adalah pemasaran produk yang semakin meluas.

Tak kenal lelah, Ja’far menitipkan produknya di warung-warung sekitar lokasi produksi. Ia juga giat mencari distributor untuk memasarkan produk terasi olahannya tersebut. Jerih payahnya ternyata membuahkan hasil, Ja’far myendapatkan distributor yang mau bekerja sama dengannya. Berkat kemitraan dengan distributor, penghasilan yang diperoleh dari produk terasi udang pun lantas melejit, bahkan bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp10.000.000 per bulan.

Terasi udang milik Ja’far telah mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan (Dinkes P-IRT No.2021208010230-21) dan juga Sertifikat Halal LP POM MUI Sumatera Utara (No. 09060007690316). Tidak lama berselang, produksi terasi ditingkatkan hingga mencapai 30 ton per bulan, dengan jumlah anggota yang bertambah menjadi 50 orang.

Ja’far semakin bersemangat menyebarluaskan usaha koperasinya, mulai dari memasang iklan sampai membuat website khusus untuk menjual terasi berbahan udang miliknya, yang diberi nama Silau Asahan. Nama tersebut berasal dari daerah di mana Ja’far memulai usahanya hingga membuahkan kesuksesan.

“Dengan keseriusan serta semangat pantang menyerah, dan dengan dibantu masyarakat juga, terasi ini akhirnya diminati dan didistribusikan sampai ke Thailand dan Malaysia. Terasi kita menggunakan udang dan diakui lebih enak, tidak bau seperti terasi yang terbuat dari ikan pada umumnya," ujarnya. 
 
Merintis Usaha Terasi Udang Halus Kecil Segar

Pengembangan terasi udang Silau Asahan juga lah yang mengantarkan Ja’far meraih Juara II dan menggondol uang penghargaan sebesar Rp 15.000.000 dalam ajang Pemuda Mandiri Perdesaan (PMP) tingkat nasional tahun 2016 lalu. Kesuksesan yang didapatkan Ja’far melalui jalan yang berliku-liku berhasil meyakinkan juri bahwa Ja’far layak dijadikan inspirasi untuk mengupayakan kemandirian bagi desa-desa di penjuru Indonesia. Kegigihan Ja’far yang tak gentar menghadapi tantangan diharapkan mampu menginspirasi pemuda - pemudi desa untuk berani berjuang hingga mencapai hasil yang diinginkan.

“Salah satu alasan saya melakukan gebrakan dengan terasi Silau Asahan adalah agar para pemuda di desa terpencil tidak merantau ke kota besar. Jadi kedepannya pemuda bisa menggali potensi di mana ia dilahirkan," jelas Jafar.

Ja’far juga memperoleh banyak penghargaan, termasuk dari Almamaternya Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, hingga Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara, Pemuda pelopor penggerak Koperasi Nelayan, Pelaku UKM yang kreatif dan Inovatif, Duta Bahari sampai Duta Koperasi dan UKM Sumatera Utara atas kegigihannya memberdayakan warga sekitar agar lebih sejahtera.

Dari apa yang telah diraihnya, Ja’far berharap agar pemuda-pemudi Indonesia semakin gigih berjuang mengukir prestasi dan jangan menyerah untuk mewujudkan kesejahteraan yang diimpikan.

Bagi Ja’far, apa yang telah diraihnya belum cukup. Oleh karenanya, ia masih akan terus berjuang untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi. Tujuan akhir perjuangannya tak lain demi mensejahterakan keluarga dan warga di sekitar lokasi usaha. Dengan ridha orangtua dan Allah SWT, tekadnya untuk tidak berhenti berjuang dan memperoleh hasil setimpal.

“Selain terasi, kita juga ada budidaya kepiting, pengolahan ikan, seni limbah laut seperti membuat hiasan dari kulit kerang, dan di bidang pariwisata, penangkapan ikan laut segar, karena kita sudah memiliki Kapal 30 GT 2 Buah dan 5 GT 4 Buah. Pendeknya, kita takkan cepat berpuas diri," jelasnya. 

Terpanggil membangun desa kelahirannya, Ja'far memutuskan berdayakan tanah kelahirannya dengan semboyan dalam bahasa Tapanuli Selatannya adalah "marsipature hutanabe". 

Juga melihat kondisi ayahnya yang sedang sakit pada Tahun 2017. Ja'far agak lebih dekat dengan keluarganya. Ia mempelopori untuk berdayakan masyarakat pegunungan di Tapanuli bagian selatan lewat Konsep Koperasi Bumi Balakkua Padang Lawas Utara.

Jafar mengajak sebanyak 20 ibu - ibu setempat memproduksi hasil inovasi tanaman liar yang tidak dimanfatkan dan sering dibuang, yaitu tanaman buah Blakka dan Harimonting Produk Aneka Makanan Hasil Balakka dan Harimonting:
1. Kripik Ubi Rasa Balakka.
2. Dodol Hariminting.
3. Manisan Balakka.
4. Dan Dodol Harimonting.
 
Ja’far juga membuat desa sadar wisata dengan mempelopori wisata  Pesona 10 Air Terjun The Lost Sampuran Simarloting yang selama ini masyarakat tak terpikir menggali potensi itu.

Dengan segudang prestasi ini Jafar berhasil mengharumkan nama Provinsi Sumatera Utara (Sumut) nan Nama Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara di kancah Nasional dan menyabet juara umum dalam event Santripreneur Award 2018, yang digelar Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Mikro Kecil dan Menengah (LPDB KUMKM) Kementerian Koperasi dan UMKM pada kegiatan Indonesia Syariah Fair (INSYAF) 27 – 29 Nopember 2018, di Balai Kartini Jakarta.

Muhammad Jafar Hasibuan keluar sebagai Juara 1 Santripreneur Award 2018 Kategori Boga tanaman langkah (Olahan Pangan) Lewat Koperasi Bumi Balakka Paluta Produksi Olahan Pangan Balakka berupa Aneka Makanan Hasil Inovasi Balakka dan Ramuan balakka yang merupakan tanaman langkah di Paluta di tambah faktor pendukung Koperasi Silau Terasi Produksi Olahan Silau Terasi Tingkat Nasional dengan bangganya mempersembahkan karya terbaiknya untuk Sumut.

“Alhamdulillah, saya berhasil menjadi juara umum dalam event Santripreneur Award 2018. Berkat doa keluarga dan masyarakat, prestasi ke 19 ini dicapai,” kata pria berusia 28 tahun ini.

Ia bercerita, menjadi pemenang utama dalam Santripreneur Award 2018, awalnya iseng-iseng dengan mendaftarkan diri melalui online. Dalam kompetisi itu, ia bersaing dengan 10 ribu finalis baik dalam negeri maupun luar negeri sebagai peserta.

“Alhamdulillah, karya produksi olahan pangan dengan nama Balakka (tanaman langkah) berhasil mengambil hati dewan juri dari Kementerian Koperasi dan UKM RI,Akademisi dan Pengamat Ekonomi mendapat nilai terbaik dari seluruh peserta finalis yang di perlombakan saat lomba Santripreneur Award 2018 di Hotel Kartika Chandra Jakarta Selatan 27 November 2018," ujarnya.

Jadi pemenang lomba Santri Preneur Award 2018, Jafar menerima hadiah senilai Rp.20 juta untuk bonus, pembiyaan syariah LPDB KUKM 100 juta, dan 15 Juta vocher zahir online internasional, total 135 juta di depan ribuan penonton dari Delegasi Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Se Indonesia, Para BUMN di acara syariah fair (Insyaf) 2018 yang dibuka langsung oleh Presiden RI.

Sebelumnya dari Karya temuan yang dipeloporinya,  Ja’far mendapat dana dari Uji Model Kewirausahaan 20 juta untuk perluasan kesempatan kerja .

“Sempat meneteskan air mata dan langsung bersujud syukur mendapatkan kabar tersebut biasa selama ini banyak cemooh dan hinaan orang warga sumut dengan karyanya dia menghadapinya semua itu kini bisa mengharumkan nama Sumatera Utara,” katanya.

Dalam Uji Model Kewirausahaan perluasan kerja Ja’far berhasil menciptakan buku Informasi inovasi balakka dan menjadi pemenang pertama uji model kewirausahaan tahun 2018 dan saat ini sudah diarsipkan di Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Lembang Jawa Barat Kementerian Ketenagakerjaan RI untuk referensi bagi rakyat indonesia.

Aktivitas dan kegiatan Muhammad Ja’far Hasibuan lainnya adalah Creativepreneur, Duta Koperasi dan UKM Sumatera Utara, Dosen, Pembicara Seminar, Pembicara Talk Show Nasional, Pemateri  Workshop, Motivator Desa, Pemberdayaan Nelayan, Pemberdayaan desa, Pemuda Pelopor Nasional, Narasumber Media Cetak, Radio dan TV. (***)
 
 

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu